info@man3kediri.sch.id

Pesan Gus Imam di MAN 3 Kediri: Jauhi Sifat Sombong dan Riya

Pesan Gus Imam di MAN 3 Kediri: Jauhi Sifat Sombong dan Riya

Kab. Kediri (MAN 3) — Seluruh Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) MAN 3 Kediri mengikuti kegiatan ngaji rutin yang diadakan di Aula Al Ikhlas pada Jumat (12/6). Kegiatan spiritual berkala ini bertujuan untuk memperkokoh keimanan sekaligus mempererat tali silaturahmi antarpegawai di lingkungan madrasah. Pada kesempatan kali ini, pihak madrasah menghadirkan Gus Imam Baihaqi, pengasuh Pondok Pesantren Mahatut Tholabah Kebondalem Kandangan, sebagai penceramah utama untuk memberikan siraman rohani.

Gus Imam Baihaqi dalam tausiahnya menekankan pentingnya sifat kasih sayang (welas asih) terhadap sesama makhluk sebagai penentu diterimanya amal ibadah di langit keenam. Beliau menjelaskan bahwa sehebat apa pun ibadah lahiriah seseorang, semua itu bisa tertolak jika hatinya keras dan tidak memiliki rasa empati. Melalui penuturannya yang mendalam, beliau mengingatkan agar para pendidik dan tenaga kependidikan senantiasa menanamkan ketulusan dalam berinteraksi, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

“Kanjeng Nabi dawuh, malaikat yang menjaga amal, Hafadoh, membawa amal yang terang benderang seperti terangnya matahari. Amal itu berupa zakat, haji, umrah, dan puasa yang berhasil melewati langit keenam. Namun, malaikat yang menjaga di langit keenam kemudian bilang, ‘Gepukno amal iki ning sing duwe amal (pukulkan amal ini kepada pemiliknya), sesungguhnya orang yang punya amal tidak punya welas (belas kasihan) kepada orang lain. Saya adalah malaikat rahmat, siapapun orang yang beramal tapi tidak mempunyai sifat rohman, maka akan ditolak amalnya, sesuai dawuh Gusti Alloh,’” tutur Gus Imam Baihaqi.

Lebih lanjut, Gus Imam Baihaqi menceritakan sebuah kisah sarat hikmah pada zaman Rasulullah SAW tentang keutamaan sifat welas asih, bahkan kepada seekor hewan sekalipun. Kisah tersebut menceritakan seorang laki-laki yang turun ke dalam sumur untuk minum. Begitu naik ke atas, ia melihat seekor anjing (segawon) yang tampak sangat kehausan. Merasa iba, lelaki itu rela turun kembali ke dalam sumur demi mengambilkan air menggunakan sepatunya untuk diberikan kepada anjing tersebut, hingga akhirnya ia mendapatkan maghfiroh (ampunan) dari Allah SWT.

Di akhir ceramahnya, Gus Imam mengingatkan bahaya sifat riya dan kesombongan yang dapat menggugurkan amal di langit ketujuh. Beliau berpesan bahwa amalan besar seperti infak dan jihad yang tampak berkilau sekalipun akan sia-sia jika dikotori oleh motivasi ingin dipuji atau merasa lebih baik dari orang lain.

“Kanjeng Nabi dawuh, malaikat Hafadoh membawa amal seperti infak dan jihad yang sinarnya terang kados padange srengenge hingga melewati langit ketujuh. Tapi malaikat penjaga langit ketujuh berkata, ‘Amal iki pukulno sing duwe amal, atine gembok en (pukulkan amal ini kepada pemiliknya dan gembok hatinya). Wong sing amal iki ngersaaken disebut amalnya (orang ini ingin disebut-sebut amalnya/tidak ikhlas).’ Allah tidak menerima amal riya atau pamer. Melalui hadis ini, jangan sampai ibadah kita justru menjadikan kita sombong, karena hal itu membuat amal ibadah kita tidak diterima,” pungkasnya.(Humas)