
Kab. Kediri (MAN 3) – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Al-Hidayah MAN 3 Kediri pada Jumat (24/4). Madrasah ini menggelar agenda Halal Bihalal sekaligus penyampaian informasi pendidikan yang menghadirkan seluruh Guru, Tenaga Kependidikan, serta wali murid kelas X. Acara yang dimulai pukul 08.00 WIB ini dibuka secara resmi oleh MC Eko Sri Astutik, yang kemudian dilanjutkan dengan lantunan istighosah bersama di bawah bimbingan Ustadz Saiful Anam dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh siswi Alea Ramdhina dari kelas X-D.

Kepala MAN 3 Kediri, Jamiluddin, dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga kerukunan melalui tradisi saling memaafkan. Beliau mengajak seluruh wali murid untuk aktif berkomunikasi dengan pihak madrasah demi perkembangan siswa. “Pagi yang penuh berkah ini, moga-moga silaturahim kita membawa manfaat untuk kita semua. Maturnuwun sanget atas kehadiran Njenengan semua. Makna Halal Bihalal ini luar biasa, walau tidak hari raya kita tetap bermaafan. Indahnya hidup saling memaafkan, ini tradisi yang baik. Monggo didoakan putra-putrinya, jika ada informasi apa pun silakan langsung dikomunikasikan dengan pihak madrasah,” ujar Jamiluddin.

Sesi informasi pendidikan dilanjutkan oleh Wakil Kepala Bidang Kesiswaan, Zainul Mustofa, yang memberikan arahan khusus mengenai persiapan ujian siswa kelas X. Beliau mengimbau agar orang tua lebih ketat memantau pola belajar anak di rumah agar hasil akademik yang dicapai bisa maksimal. Sinergi antara pengawasan guru di madrasah dan perhatian orang tua di rumah dinilai menjadi kunci utama keberhasilan transisi pendidikan para siswa di tingkat menengah atas ini.

Memasuki acara inti, Kyai Moh. Latif Qohari memberikan Mauidhoh Khasanah yang sarat akan makna filosofis Jawa dan religius terkait simbolisme hidangan Lebaran. “Orang yang bisa membuat kupat adalah orang yang mendapat hidayah Gusti Allah karena ia mendapatkan janur (sejating nur). Kupat, lepet, lodeh itu artinya olone sampun bledeh (keburukannya sudah tampak), ditutup dengan lontong yang berarti olone sampun kosong (keburukannya sudah habis). Pilih golongan jatukno atau sujukno, karena uang pun tidak menjamin bahagia,” tutur Kyai Latif di hadapan para jamaah.

Beliau juga memaparkan filosofi tujuh hari dalam seminggu sebagai pengingat perilaku manusia yang religius. “Hari atau Dino dalam bahasa Arab adalah Ad-Dinu yang artinya agama atau nasihat. Ada tujuh hari: Senin (seneng unen-unen), Selasa (loman karo sopo-sopo), Rabu (seneng sinau ben gak bodo), Kamis (mingkem timbang lamis), Jumat (jumbohno lelakon karo niat), Sabtu (insaf tobat marang doso ingkang metu), dan Minggu (minggirno doso),” pungkasnya. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama dan tradisi mushafahah atau bersalam-salaman antar sesama guru dan wali murid dengan penuh kehangatan.(Humas)