info@man3kediri.sch.id

Ngaji Bareng Gus Imam: Kunci Selamat Dunia Akhirat, Jaga Lisan dan Perut

Ngaji Bareng Gus Imam: Kunci Selamat Dunia Akhirat, Jaga Lisan dan Perut

Kab. Kediri (MAN 3) – Suasana terasa khidmat saat para Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) mengikuti kajian rutin, Jumat (19/9) di ruang guru Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Kediri. Kegiatan yang berlangsung dari pukul 14.30 hingga 15.00 WIB ini diisi oleh Gus Imam, pengasuh Pondok Pesantren Mahatut Tholabah, Kebondalem, yang mengupas tuntas dua amalan penting sebagai kunci keselamatan dunia dan akhirat.

Dalam tausiahnya, Gus Imam menekankan bahwa dua perkara utama yang harus dijaga oleh setiap muslim jika ingin meraih keselamatan adalah lisan (ucapan) dan perut (konsumsi). Beliau menegaskan bahwa pengendalian terhadap dua hal ini merupakan fondasi bagi kokohnya iman dan takwa seorang hamba kepada Allah SWT.

Membahas tentang pentingnya menjaga lisan, Gus Imam menyampaikan sebuah perumpamaan yang mendalam. “Orang yang ingin selamat, sebaiknya lebih banyak diam. Ucapan itu ibarat macan; jika dilepas, ia bisa menerkam dan menyakiti orang lain, tetapi jika dikurung (dikendalikan), maka kita akan aman,” jelasnya. Lisan, menurutnya, dapat mengantarkan seseorang pada kenikmatan surga atau siksaan neraka.

Gus Imam kemudian mengutip kisah sahabat mulia, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, yang pernah memberikan isyarat tentang bahaya lisan. Ketika ditanya ucapan apa yang dapat membawa keberuntungan, Abu Bakar menegaskan bahwa kalimat tauhid “Laa ilaha illallah” adalah sebaik-baiknya ucapan. “Tanda seorang mukmin sejati adalah sedikit bicaranya namun banyak kerjanya, sedangkan tanda orang munafik adalah sebaliknya, banyak bicara namun sedikit kerjanya,” tambah Gus Imam.

Beralih ke pembahasan kedua, Gus Imam menguraikan pentingnya menjaga perut dari segala perkara yang haram dan syubhat. Beliau menjelaskan bahwa syubhat adalah perkara yang samar hukumnya antara halal dan haram, di mana para ulama pun berselisih pendapat. “Kita harus senantiasa berusaha mencari rezeki yang benar-benar halal, sesuai dengan kaidah Imam Abu Hanifah bahwa perkara halal adalah yang memiliki dalil kehalalan yang jelas,” tuturnya.

Lebih lanjut, beliau memaparkan adab dan tingkatan makan dalam Islam. Tingkatan makan yang wajib adalah sekadar untuk bertahan hidup dan mampu menjalankan ibadah wajib tetapi tidak bisa menjalankan sunnah. Sementara itu, makan hingga bisa menjalankan ibadah sunnah hukumnya menjadi sunnah. “Ikutilah anjuran syar’i, yakni mengisi sepertiga usus untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara,” pesannya.

Sebagai penutup, Gus Imam mengingatkan bahwa makan berlebihan, meskipun dari sumber yang halal, dapat mengarah pada keharaman. Kenyang yang melampaui batas dapat mengeraskan hati, membuat seseorang malas belajar dan beribadah, serta membuka pintu bagi sifat-sifat tercela seperti mengadu domba dan munafik. Kajian pun ditutup dengan doa, meninggalkan perenungan mendalam bagi seluruh GTK yang hadir.(Humas)