
Kab.Kediri (MAN 3) – Seluruh pendidik dan tenaga kependidikan MAN 3 Kediri mengikuti kajian Islam bersama Gus Imam Baihaqi, pengasuh Pondok Pesantren Mahatut Tholabah Kebondalem Kandangan. Kegiatan yang digelar sebagai agenda ngaji awal tahun ajaran 2026/2027 ini merupakan kelanjutan dari kajian rutin pada semester lalu. Bertempat di lingkungan madrasah, acara kerohanian ini bertujuan untuk menyegarkan spiritualitas sekaligus memantapkan kesiapan mental para civitas akademika dalam memasuki tahun ajaran baru.

Acara penuh berkah ini dibuka langsung oleh Kepala MAN 3 Kediri, Jamiluddin. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya konsistensi dalam menuntut ilmu demi kebaikan institusi dan pribadi. “Semoga kita tetap istiqomah mengikuti kegiatan ini,” harap Jamiluddin saat membuka kajian secara resmi di hadapan seluruh peserta.

Dalam tausiyahnya, Gus Imam Baihaqi menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya keikhlasan dalam beramal, merujuk pada sebuah hadis tentang diterimanya amalan oleh Allah SWT. “Kemudian naik pula Malaikat Hafazhah dengan amalan seorang hamba. Amalan itu berupa sembahyang, zakat, puasa, haji, umroh, akhlak mulia, banyak berdiam diri dari perkara yang tidak berguna, dan banyak berzikir. Amalan hamba ini diusung oleh para malaikat penjaga tujuh petala langit sehingga melintasi segala halangan dan sampai kepada Allah. Namun, karena tidak ikhlas, Allah berfirman bahwa Dia lebih mengetahui isi hati hamba-Nya yang menghendaki hal lain, lalu menurunkan laknat-Nya,” urai Gus Baihaqi.

Lebih lanjut, Gus Baihaqi menceritakan bagaimana sahabat Muaz bin Jabal menangis mendengar sabda Rasulullah SAW tersebut karena merasa cemas akan keselamatan dirinya. Menanggapi ketakutan Muaz, Rasulullah SAW memberikan jalan keluar yang menenteramkan. “Kanjeng Nabi dawuh kepada Muaz, ‘Manuto maring aku’ (ikutilah aku),” tambah Gus Baihaqi, menekankan pentingnya meneladani setiap sunah Rasulullah agar terhindar dari murka Allah.
Sebagai penutup kajian, Gus Baihaqi juga memaparkan materi penting mengenai pentingnya menjaga akhlak dan kesabaran dalam hubungan rumah tangga antara suami dan istri. Beliau menjelaskan bahwa keharmonisan keluarga merupakan bagian dari pilar keberkahan hidup. “Kalau istri bisa sabar kepada suami maka akan mendapatkan ganjaran seperti Siti Asiyah, demikian sebaliknya. Kalau suami bisa bersabar terhadap istri maka akan mendapatkan ganjaran pahala seperti Nabi Ayub,” pungkasnya.(Humas)