
Kab. Kediri (MAN 3) — MAN 3 Kediri menyelenggarakan kegiatan Kajian Islami (Parenting Islami) dan doa bersama dengan wali murid kelas XI di aula madrasah, Selasa(19/5). Agenda ini mengusung tema “Mengetuk Pintu Langit dengan Shalat Khusyuk dan Doa orangtua, Membuka Gerbang Masa Depan dengan Belajar Tekun dan dukungan orangtua.” Pertemuan ini dirancang secara khusus untuk menyelaraskan visi pendidikan antara pihak madrasah dan orang tua demi mengantarkan peserta didik menuju kesuksesan dunia maupun akhirat.

Kepala MAN 3 Kediri, Jamiluddin, memberikan apresiasi yang mendalam atas kehadiran para orang tua dalam menyukseskan program penguatan spiritual ini. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa sinergi pola asuh merupakan kunci utama dalam membentuk karakter islami pada diri anak.

“Matur nuwun atas rawuhnya Bapak/Ibu wali murid kelas XI. Mohon berdoa kepada Allah, yang hadir di sini semoga bisa berangkat haji. Panjenengan rawuh kesini untuk menyimak kembali bagaimana pola asuh kita selama ini, semoga nanti implikasinya bisa dilihat dari indikator wudhunya, shalatnya, dan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan iman dan ibadah,” ujar Jamiluddin.

Sesi inti diisi dengan penyampaian Mauidhoh Khasanah oleh KH. Syamsul Abadi Al Hafidz dari Jombang, yang membedah pentingnya benteng spiritual bagi generasi masa kini. Beliau mengambil uswah dari kisah perjuangan ibunda Sayyidah Maryam (istri Imran) dan ibunda Nabi Ismail yang senantiasa memohon perlindungan mutlak bagi keturunannya. “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu atas janin yang aku kandung, atas godaan syaitan,” ucap KH. Syamsul Abadi saat mengutip doa keselamatan tersebut. Ia juga mengingatkan para orang tua bahwa tantangan zaman sekarang sudah jauh berbeda karena godaan syaitan modern hadir dalam bentuk digital dan lingkungan yang semakin kompleks.

Lebih lanjut, KH. Syamsul Abadi menguraikan konsep tipologi kondisi jiwa dan perilaku anak dalam perspektif psikologi perkembangan Islam yang diselaraskan dengan pemikiran Imam Al-Ghazali. Islam memandang bahwa setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, namun dalam perkembangannya mereka terbagi ke dalam empat kategori akibat pengaruh pola asuh. Kategori tertinggi adalah Qurrata A’yun (penyejuk hati) yang dicirikan dengan anak yang taat beribadah dan berbakti, diikuti oleh tipe Zinah (perhiasan dunia) yang menonjol secara lahiriah namun menuntut orang tua agar tetap waspada agar tidak terlena oleh prestise duniawi.
Pada kategori berikutnya, para orang tua diajak untuk memahami tipe anak Fitnah (ujian/cobaan) dan Aduwwun (musuh). Anak tipe Fitnah sering kali menguji kesabaran melalui sikap keras kepala, yang sejatinya hadir sebagai sarana penggugur dosa sekaligus ruang evaluasi nafkah dan pola asuh bagi orang tua. Sementara itu, tipe Aduwwun merupakan kondisi paling diwaspadai di mana perilaku anak justru menjerumuskan orang tua ke dalam kemaksiatan dan memicu tindakan durhaka (uququl walidain).

Suasana kajian semakin interaktif saat memasuki sesi tanya jawab ketika Romo Kyai memberikan kesempatan kepada satu murid perempuan, satu wali murid laki-laki, satu wali murid perempuan, dan satu murid laki-laki untuk mengajukan pertanyaan langsung. Di antara audiens tersebut, ada yang berkonsultasi mengenai lafadz doa agar mendapatkan keturunan yang shalih/sholihah, ada yang meminta amalan doa supaya anak menjadi penurut, serta ada pula yang menanyakan persoalan fikih terkait keabsahan hukum berwudhu menggunakan wadah ember kurang dari dua qullah yang diberi lubang pancuran. Setelah semua pertanyaan dijawab tuntas oleh Romo Kyai dengan penjelasan yang gamblang, seluruh rangkaian kegiatan pun dipuncaki dengan doa bersama yang berlangsung khidmat.(Humas)