info@man3kediri.sch.id

Ngaji Bidayatul Hidayah GTK MAN 3 Kediri tentang Adab menjadi Imam dalam Salat

Ngaji Bidayatul Hidayah GTK MAN 3 Kediri tentang Adab menjadi Imam dalam Salat

Kab. Kediri (MAN 3) – Ngaji Bidayatul Hidayah Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) MAN 3 Kediri bareng Gus Imam panggilan akrab K.H. Imam Baihaqi, Pengasuh Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah Kebondalem Kandangan Kabupaten Kediri, Jumat (24/1) tentang Adab menjadi Imam dalam Salat.

Lalu, imam diam sejenak setelah membaca surat Al-Fatihah. Di saat itulah makmum membaca surat Al-Fatihah agar sesudahnya ia bisa mendengarkan bacaan imam.

Pada salat jahar, makmum tidak membaca surat kecuali jika ia tidak mendengar suara imam.

Hendaknya seorang imam tidak membaca tasbih dalam rukuk dan sujud lebih dari tiga kali dan juga tidak memberikan tambahan dalam tasyahud awal setelah membaca salawat kepada Nabi SAW.

Pada dua rakaat terakhir, imam cukup membaca surat Al-Fatihah, tidak usah menambah-nambahnya lagi. Juga ketika tasyahud akhir imam cukup membaca tasyahud dan salawat kepada Rasulullah SAW. Ketika bersalam, imam hendaknya berniat memberikan salam kepada semua jama’ah sedangkan jamaah atau makmum dengan salamnya berniat menjawab salam imam.

Setelah itu imam berdiam sebentar dan menghadap kepada para jamaah. Jika yg ada di belakangnya adalah para wanita, maka ia tidak usah menoleh sampai mereka bubar.

Hendaknya makmum tidak berdiri sampai imam berdiri, lalu imam pergi entah ke arah kanan atau ke arah kiri, tapi ke arah kanan lebih kusukai.

Imam tidak boleh berdoa untuk dirinya sendiri da­lam membaca qunut subuh tapi hendaknya ia meng­ucapkan Allahummahdina (Ya Allah, tunjukkan kami) dengan suara nyaring, sedangkan para makmum mengamininya tanpa mengangkat tangan mereka ka­rena hal itu tak terdapat dalam riwayat.

“Selebihnya makmum membaca sendiri sisa dari doa qunut tersebut, yakni dimulai dari Innaka la yaqdhi wa la yuqdha ‘alaika,” pungkas Gus Imam. (EW)