Seluruh Guru, Tenaga Kependidikan (GTK), dan siswa MAN 3 Kediri berkumpul dengan khidmat di Aula Bawah, Kamis (15/1) untuk memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Suasana religius sudah terasa sejak sesi pra-acara yang diisi dengan istighosah bersama Ustadz Hudi Santosa, S.Sos. Acara kemudian dibuka secara resmi dengan bacaan Ummul Kitab dan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang menggema indah, membawa ketenangan bagi seluruh warga MAN 3 Kediri.

Kepala MAN 3 Kediri dalam sambutannya menekankan pentingnya korelasi antara ibadah dan perilaku sehari-hari. Beliau mengingatkan bahwa kualitas iman seseorang dapat diukur dari kedisiplinan ibadahnya, terutama shalat. “Iman bisa tebal atau tipis, indikasinya bisa dilihat pada saat anak-anak shalat. Kalau sudah tertib, berarti ada peningkatan iman kita. Hari ini dan seterusnya anak-anak harus berubah; yang terlambat tidak terlambat lagi. Tingkatkan kedisiplinan dan tunjukkan akhlak yang bagus karena madrasah akan terus mengevaluasi,” tegasnya sebelum memohon KH. Achmad Nur Khoir untuk menyampaikan tausiyah.

Memasuki acara inti, KH. Achmad Nur Khoir dari Pagu, Kediri, memberikan ceramah yang menyentuh hati mengenai keutamaan Sholawat Tibbil Qulub. Beliau menjelaskan bahwa mereka yang rutin mengamalkannya akan dianugerahi hati yang bercahaya. “Orang yang membaca sholawat ini hatinya akan bercahaya. Ciri hati yang bercahaya adalah rajin shalat fardu, suka membaca Al-Qur’an, istighosah, gemar bersedekah, serta memiliki sikap birrul walidain atau berbuat baik berbakti) kepada Bapak dan Ibu Guru,” jelas sang kiai di hadapan para siswa.

Sebaliknya, KH. Achmad Nur Khoir juga memperingatkan tentang bahaya hati yang gelap gulita akibat perbuatan buruk. Hati yang gelap ditandai dengan gemar berbuat fasik, seperti melakukan perundungan (bullying) kepada teman serta lisan yang sering digunakan untuk ghibah. Beliau mengingatkan bahwa ghibah selalu mengundang kehadiran setan sebagai pihak ketiga atau keempat dalam pembicaraan tersebut. Hal ini menjadi pengingat keras bagi para siswa untuk selalu menjaga lisan dan keharmonisan antar sesama di lingkungan madrasah.

Dalam uraian makna Isra Mi’raj, beliau menceritakan perjalanan Rasulullah SAW yang dibersihkan hatinya sebelum menuju Sidratul Muntaha menggunakan Buraq.

Beliau memaparkan berbagai simbolisme yang dilihat Nabi, seperti orang memanen padi yang melambangkan pahala amal jariyah, serta aroma harum dari makam Dewi Masyitoh sebagai simbol keteguhan iman. Namun, ada pula penglihatan memilukan tentang orang yang memukuli kepalanya sendiri hingga pecah sebagai gambaran bagi umat yang meninggalkan ibadah shalat selama di dunia.

Sebagai penutup, peringatan ini menghasilkan tiga kesimpulan utama yang diharapkan menjadi pedoman bagi seluruh warga MAN 3 Kediri. Pertama, setiap individu diharapkan bertransformasi menjadi orang yang bertaqwa dalam menjalankan perintah agama. Kedua, pentingnya menjaga akhlakul karimah dalam pergaulan sehari-hari. Ketiga, seluruh siswa dan GTK berkomitmen untuk senantiasa menjaga nama baik almamater melalui prestasi dan perilaku yang terpuji.(Humas)