
Kab.Kediri (MAN) – Pendidik dan tenaga kependidikan MAN 3 Kediri tetap istiqomah mengikuti kegiatan pengajian rutin Jumat pagi pada tanggal 30 Oktober 2026 yang bertempat di Aula Al Ikhlas. Kegiatan pembinaan rohani ini menghadirkan pengasuh Pondok Pesantren Mahdud Tholabah Kebondalem Kandangan, Gus Imam Baihaqi, sebagai narasumber utama untuk mengkaji kitab kuning mengenai adab pergaulan dan hak-hak persahabatan. Seluruh civitas akademika mengikuti majelis ilmu ini dengan penuh khidmat guna memperkuat kedalaman spiritual dan akhlak mulia dalam bekerja.

Acara keagamaan rutin tersebut dibuka secara langsung oleh Kepala MAN 3 Kediri, Jamiluddin. Dalam pengantarnya, Kepala Madrasah menyambut baik kehadiran Gus Imam Baihaqi serta menekankan pentingnya menjaga keistiqomahan dalam menuntut ilmu agama bagi seluruh pendidik dan tenaga kependidikan. Kegiatan ini dirancang sebagai sarana penyegaran rohani agar setiap pegawai dapat mengimplementasikan nilai-nilai keislaman secara nyata dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam melayani para peserta didik di madrasah.

Dalam tausiyahnya yang mendalam, Gus Imam Baihaqi menguraikan adab pergaulan serta perumpamaan sifat manusia dalam kehidupan sosial berdasarkan referensi kitab klasik. “Perumpamaan sifat manusia itu terbagi menjadi tiga kategori; pertama, orang yang seumpama makanan pokok yang selalu dibutuhkan seperti guru pembimbing dan orang berilmu; kedua, orang yang seumpama obat yang hanya diperlukan pada masa-masa tertentu saja; dan ketiga, orang yang seumpama penyakit yang tidak menyenangkan, namun kita dapat mengambil hikmah dan manfaat untuk menjauhi perkara yang tidak baik agar kita senantiasa selamat,” ungkap Gus Imam di hadapan para jamaah. Penjelasan tersebut diperkaya dengan kisah teladan Nabi Isa a.s. mengenai pentingnya kepekaan dalam mengenali tabiat manusia dan menjaga hak persahabatan.

Lebih lanjut, Gus Imam Baihaqi menjelaskan bahwa ketika kita melihat manusia yang tidak bermanfaat, kemanfaatannya bagi diri kita adalah kita bisa belajar menjauhi perkara yang tidak baik cukup dengan melihat orang yang tidak beradab lalu menghindarinya, sebagaimana keteladanan para nabi yang mengajarkan bahwa seseorang yang peka terhadap keburukan dan mau menjauhinya, serta sak pintar-pintarnya orang yang tetap mendengarkan petuah nasihat orang lain dalam menjaga hak pertemanan, telah cukup memenuhi adab. Ia juga mengibaratkan sifat manusia bagaikan pepohonan, di mana terdapat manusia yang bermanfaat di dunia tetapi tidak di akhirat, persis seperti pohon yang berbuah lebat namun hanya mendatangkan kemanfaatan duniawi semata.

Melalui keistiqomahan kajian Jumat pagi ini, seluruh pendidik dan tenaga kependidikan MAN 3 Kediri dibekali pemahaman spiritual yang mendalam mengenai pentingnya menjaga adab, menyaring pengaruh pergaulan, serta mempererat silaturahmi antarpegawai. Nilai-nilai kearifan yang disampaikan Gus Imam Baihaqi diharapkan menjadi pijakan moral bagi jajaran civitas akademika dalam menjalankan tugas pelayanan pendidikan yang berakhlakul karimah, sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan penuh keberkahan di lingkungan madrasah. (Humas)