info@man3kediri.sch.id

Ngaji Bareng Gus Imam: Memuji Diri Sendiri dan Melaknat

Ngaji Bareng Gus Imam: Memuji Diri Sendiri dan Melaknat

Kab. Kediri (MAN 3)  – Seluruh Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Kediri mengikuti pengajian rutin bersama Gus Imam, pengasuh Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (29/8) ini diadakan di ruang guru MAN 3 Kediri dan dihadiri oleh seluruh GTK dengan penuh antusias. Dalam kesempatan ini, Gus Imam didampingi oleh Ustadz Saiful Anam, koordinator bidang keagamaan.

Dalam tausiahnya, Gus Imam mengulas delapan perkara yang harus dijaga oleh lisan, dengan fokus pada dua hal: memuji diri sendiri dan melaknat. Beliau mengawali pembahasan dengan menyitir Surah An-Najm ayat 32, yang artinya, “Maka janganlah kamu menganggap dirimu bersih, sebenarnya Allah lebih tahu siapakah orang yang lebih bertakwa kepada-Nya.” Ayat ini menjadi landasan bahwa pujian terbaik hanyalah milik Allah, dan manusia tidak sepatutnya membersihkan dirinya sendiri.

Pujian terhadap diri sendiri, menurut Gus Imam, bukanlah kebenaran yang baik. Hal ini bahkan pernah dijawab oleh seorang Ahli Hikmah sebagai “kebenaran yang buruk”. Lebih lanjut, memuji diri sendiri dapat mengurangi kehormatan seseorang di mata manusia dan mendatangkan murka Allah SWT. Gus Imam mengajak para hadirin untuk bercermin. Ketika kita melihat orang lain memuji dirinya sendiri, menceritakan kelebihan pangkat atau hartanya, hati kita cenderung tidak suka, bahkan mencela di dalam hati. Hal yang sama juga terjadi ketika kita memuji diri sendiri di hadapan orang lain.

“Melihat cacat orang lain sejatinya adalah cermin untuk diri sendiri,” ujar Gus Imam. “Oleh karena itu, jangan pernah melaknat atau mengutuk apa pun yang diciptakan oleh Allah SWT. Ini berlaku untuk makanan, minuman, manusia, bahkan hewan sekalipun. Melaknat ciptaan Allah sama saja dengan menghina Allah, Sang Pencipta,” tegas Gus Imam.

Lebih dalam, Gus Imam mengingatkan bahwa manusia tidak memiliki hak untuk memastikan kekafiran atau kesyirikan orang lain. Ia berpesan agar tidak mencampuri urusan yang hanya diketahui oleh Allah. Contohnya, memanggil orang lain kafir bisa membuat diri sendiri jatuh ke dalam kekafiran. Hal ini menunjukkan betapa berbahayanya lisan jika digunakan untuk melaknat.

Sebagai teladan, Gus Imam mengutip perilaku Rasulullah SAW yang tidak pernah mencela makanan atau minuman. Apabila beliau menyukainya, beliau akan memakannya. Namun, jika tidak berkenan, beliau akan meninggalkannya tanpa sedikit pun mencela. Sikap ini menjadi pengingat bagi setiap muslim untuk menjaga lisan agar senantiasa berkata baik dan tidak melaknat ciptaan Allah.(EFNS)