
Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (KKMA) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Kabupaten Kediri resmi meluncurkan Bimbingan Teknis (Bimtek) Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) pada Rabu (28/1). Bertempat di Kantor Kemenag Kabupaten Kediri, kegiatan ini bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan melalui pendekatan empati dan karakter. Acara ini dihadiri langsung oleh Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Kediri, H. Achmad Faiz, Kasi Pendma Sahrul Munir, serta pengawas madrasah guna mendukung transformasi kurikulum di 56 Madrasah Aliyah se-Kabupaten Kediri.

Dalam sesi materi awal, pengawas madrasah Hj. Yaqutatun Hamroh menekankan pentingnya perubahan pola pikir (grow mindset) bagi para pendidik agar tidak sekadar menggugurkan kewajiban administrasi. Beliau mengajak guru menerapkan nilai Panca Cinta dengan tulus agar suasana kelas menjadi menyenangkan. “Hapus kata ‘halah’ atau sekadar menggugurkan kewajiban dalam administrasi. KBC harus diterapkan dengan hati yang mantap melalui nilai Panca Cinta,” tegasnya mengawali rangkaian bimtek tersebut. Beliau juga menambahkan bahwa suasana kelas harus dibuat menyenangkan. “Kesan menakut-nakuti harus dihilangkan. Guru harus hadir dengan kasih sayang, mempermudah urusan siswa, dan menjadikan kebahagiaan anak sebagai tolok ukur keberhasilan belajar.”

Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Kediri, H. Achmad Faiz, secara resmi membuka acara sekaligus memberikan pesan menyentuh mengenai peran pendidik menuju Indonesia Emas 2045. Beliau menyoroti bahwa mengajar dengan hati yang bersih adalah kunci keberhasilan KBC di tengah tantangan teknologi. “KBC berbicara tentang cinta, berarti berbicara tentang hati. Jika kita mengajar dengan hati yang bersih dan tulus, maka pesan kita akan sampai ke hati anak-anak. Perkembangan teknologi yang sangat luar biasa ini dapat menjadi ketergantungan anak anak dalam penggunaannya tetapi bukan dilarang, tapi arahkan mereka untuk memahami teknologi saat ini. Didiklah anak-anak sesuai zamannya, kita juga harus menanamkan panca cinta yang berkaitan dengan KBC “, pesan beliau saat memberikan arahan utama.

Sejalan dengan hal tersebut, Kasi Pendma Sahrul Munir menyatakan bahwa implementasi KBC merupakan amanat KMA 1503 Tahun 2025 untuk menyempurnakan mutu kurikulum. “Madrasah kita sangat diminati masyarakat. Untuk menjaga kepercayaan itu, kita harus terus meningkatkan mutu pendidikan. KBC adalah pendekatan holistik agar pendidikan tidak hanya mengejar nilai akademik (kognitif), tetapi juga karakter dan spiritualitas melalui pembiasaan doa serta akhlakul karimah,” jelas Sahrul Munir. Beliau menyebutkan bahwa MAN 3 dan MAN 4 Kediri telah ditunjuk sebagai piloting project yang menjadi rujukan studi tiru bagi madrasah lain. KBC diharapkan mampu menyeimbangkan capaian akademik dengan karakter spiritualitas siswa melalui pembiasaan doa dan akhlakul karimah yang nyata di lingkungan madrasah.

Kegiatan berlanjut hingga sore hari dengan pendalaman materi dari para ahli di bidangnya. Slamet Hariyanto memaparkan rincian nilai Panca Cinta, disusul oleh Ahmad Jamil yang membahas implementasi KBC pada aspek intrakurikuler dan kokurikuler. Sementara itu, Nurul Mukhlisin mengulas penerapan KBC pada ekstrakurikuler dan budaya madrasah, yang kemudian ditutup oleh Jamiluddin dengan penyampaian Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk memastikan program ini berjalan sukses di seluruh satuan pendidikan. (Humas)