info@man3kediri.sch.id

Kajian Keislaman, Ajang Sinergi Guru dan Wali Murid MAN 3 Kediri

Kajian Keislaman, Ajang Sinergi Guru dan Wali Murid MAN 3 Kediri

Kab. Kediri (MAN 3) – MAN 3 Kediri kembali menguatkan sinergi antara madrasah, guru, dan wali murid melalui kegiatan kajian keislaman. Acara yang diselenggarakan pada hari ini, Sabtu (30/8), bertempat di Masjid Al Hidayah MAN 3 Kediri, bertujuan untuk menyatukan visi dalam mendidik generasi muda yang berkarakter Islami dan unggul.

Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Madrasah, fungsionaris, wali kelas XI, serta seluruh wali murid kelas XI. Dimulai sejak pukul 07.30 WIB, acara dibuka dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Ustadz Saiful Anam dan doa dari Ustadz Muhammad Nurul Mukhlisin. Selanjutnya, acara secara resmi dibuka oleh pembawa acara, Eko Sri Astutik.

Dalam sambutannya, Kepala Madrasah Drs. H. Jamiluddin, M.Pd.I., menekankan pentingnya silaturahmi. Beliau mengutip sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa mau bersilaturahmi maka akan mendapatkan rezeki dan umur panjang.” Beliau berharap silaturahmi ini akan menjadikan para siswa MAN 3 Kediri sebagai anak-anak yang saleh dan salihah, berakhlak mulia, dan berilmu pengetahuan.

H. Jamiluddin juga menyampaikan program 7 Kebiasaan Anak Hebat yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Program ini mencakup kebiasaan bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat, gemar membaca, bermasyarakat, dan tidur cepat. Tujuannya adalah menumbuhkan generasi muda yang sehat, cerdas, dan berkarakter kuat. Implementasi program ini akan dimulai dengan penugasan ceklis harian bagi siswa, yang kemudian harus diparaf oleh orang tua.

Sesi inti kajian diisi oleh KH. Ahmad Zubaedi atau yang akrab disapa Gus Bed. Beliau menyampaikan poin-poin penting seputar mendidik anak. Menurut Gus Bed, riyadhah dan niat yang baik menjadi kunci agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan berilmu. Ia menekankan bahwa doa yang utama untuk anak adalah memohon ilmu yang bermanfaat, yang akan membawa kebaikan bagi orang tua, keluarga, dan masyarakat.

Gus Bed juga mengajarkan pentingnya menanamkan iman sebelum ilmu pada anak. “Hiasan iman adalah rasa malu,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa orang yang imannya kuat cenderung memiliki rasa malu yang tinggi dan akan meninggalkan hal-hal yang syubhat. Sementara itu, buah dari iman adalah ilmu. Orang yang memiliki ilmu akan memiliki hati yang luas dan jiwa yang tenang.

Di akhir kajian, Gus Bed menyampaikan bahwa kunci kesuksesan seorang anak terletak pada ibunya. Beliau menekankan peran ibu sebagai pendidik pertama dan utama di dalam keluarga. Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Gus Bed, mengiringi harapan agar ilmu yang disampaikan dapat membawa keberkahan dan manfaat bagi seluruh hadirin.(EFNS)