
Kab.Kediri (MAN 3) – Kementerian Agama terus memperkuat pondasi karakter di lembaga pendidikan melalui Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Dalam rangka implementasi kurikulum transformatif ini, Kepala MAN 3 Kediri, Drs. Jamiluddin, M.Pd.I bersama Waka Akademik, Dr. Muh. Nurul Mukhlisin, M.Pd.I, menjadi perwakilan dan mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Implementasi KBC yang berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 25 hingga 27 November 2025.

Kepala MAN 3 Kediri dan Waka Akademik hadir dalam Bimtek tersebut sebagai pilot proyek KBC untuk jenjang Madrasah Aliyah (MA) di Jawa Timur. Kegiatan ini diikuti oleh Kepala MAN, Waka Kurikulum, dan Pengawas se-Jawa Timur yang ditunjuk sebagai pelaksana awal. Partisipasi ini merupakan langkah strategis MAN 3 Kediri untuk mengintegrasikan nilai-nilai moral dan spiritualitas ke dalam manajemen serta proses pembelajaran di madrasah, dengan harapan signifikan mampu meningkatkan kualitas pendidikan secara menyeluruh.

Acara Bimtek dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr. Sruji Bachtiar, M.Ag. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya peran madrasah dalam membentuk generasi masa depan yang seimbang. “Kita harus terus termotivasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan membentuk generasi yang beriman dan berakhlak mulia,” tegas Dr. Sruji Bachtiar, memberikan arahan dan motivasi kepada seluruh peserta yang hadir.

Sementara itu, pembinaan utama pada Bimtek ini disampaikan langsung oleh Menteri Agama RI, Prof. Dr. Nasarudin Umar. Menteri Agama menggarisbawahi urgensi pendidikan karakter dan nilai-nilai moral sebagai fondasi utama dalam proses pembelajaran di madrasah. Prof. Nasarudin Umar juga secara khusus menyoroti perbedaan esensial antara pendidikan di sekolah umum, madrasah, dan pesantren.


“Untuk memahami Kurikulum Berbasis Cinta, kita harus memahami dulu posisi unik madrasah, di mana perbedaannya dengan sekolah umum sangat jelas. Jika sekolah menekankan ilmu fisika dan sains yang hanya dicerna oleh akal dan logika, madrasah justru mengajarkan fisika dan metafisika yang diakses melalui intuisi, kalbu, dan kontemplasi. Madrasah bukan sekadar mencari ilmunya guru, melainkan mencari Ilmunya Allah, karena di sini kita belajar hikmah dan Al-Qur’an sebagai petunjuk yang hanya bisa diakses oleh muttaqun—sebuah proses yang menuntut pembersihan batin, shalat malam, dan Dhuha sebelum mengajar agar ilmu kita berkah. Cinta itu adalah buah dari proses panjang yang ditemukan melalui eko-teologi, sebuah pemahaman mendalam tentang relasi harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan, karena dengan memahami miniatur alam semesta dalam diri kita, kita akan mampu memahami Tuhan,”ujar Prof. Nasarudin Umar dalam sesi pembinaannya. Beliau memberikan motivasi agar para peserta terus berinovasi dalam peningkatan kualitas pendidikan.

Bimtek yang dipenuhi materi substantif ini menghadirkan serangkaian narasumber kompeten, termasuk Kabid Pendma Jawa Timur, Dr. Zamroni, M.Ag., Dr. Holis, perwakilan Pokjawas Jawa Timur, dan Ketua KKM MA Jawa Timur. Rangkaian materi yang disampaikan berfokus pada strategi teknis implementasi KBC dari berbagai perspektif kurikulum dan manajemen pendidikan.

Sebagai penutup kegiatan, seluruh peserta diwajibkan menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL). RTL ini menjadi komitmen implementasi KBC secara bertahap di madrasah masing-masing, yang menjadi percontohan di Jawa Timur. Kepala MAN 3 Kediri dan Waka Kurikulum kini mengemban tugas untuk menjadi motor penggerak KBC dan mengaplikasikan hasil Bimtek tersebut kepada seluruh civitas akademika di madrasah mereka.(Humas)