info@man3kediri.sch.id

Gus Imam Baihaqi Kupas Penghalang Amal: Bahaya Sombong, Ujub, dan Hasad

Gus Imam Baihaqi Kupas Penghalang Amal: Bahaya Sombong, Ujub, dan Hasad

Kab.Kediri (MAN 3) – Kajian kitab rutin yang diasuh oleh Gus Imam Baihaqi, pengasuh Pondok Pesantren Mahadut Tholabah Kebondalem, kembali menegaskan pentingnya menjaga keikhlasan dalam beramal. Dalam penyampaiannya, ia menekankan bahwa tidak semua amal saleh yang tampak hebat di dunia dapat dengan mudah menembus langit dan diterima oleh Allah SWT. Banyak amal yang justru gugur di perjalanan karena tersemat penyakit-penyakit hati yang dibawa oleh pelakunya. Kehadiran guru dan tenaga kependidikan (GTK) MAN 3 Kediri, Jumat (5/6) yang memadati majelis ini menjadi bukti tingginya antusiasme dalam menata spiritualitas mereka.

“Ketika malaikat Hafazhah menaikkan amal dari seorang hamba di mana amal tentang shodaqoh dan sholat itu tampak bersinar terang mereka mampu membawanya hingga ke langit yang ketiga,” ujar Gus Imam Baihaqi di tengah tausiahnya. Namun, keindahan amal tersebut mendadak tertahan di gerbang langit. Beliau melanjutkan kalimat langsungnya menirukan dialog spiritual tersebut, “Malaikat yang menjaga langit nomor tiga langsung meminta untuk menghantamkan amal itu ke wajah yang punya amal. Malaikat itu berkata, ‘Aku adalah malaikat sombong. Allah menyuruhku supaya tidak membiarakan amalan orang yang takabur (sombong) dapat melintasiku.”

Ujian bagi amal manusia tidak berhenti di situ saja, karena penyakit hati lainnya siap menghadang di lapisan langit berikutnya. Gus Imam Baihaqi menjelaskan bahwa ada kalanya amal itu memiliki suara yang bergemuruh. “Amal meniko gadah suara gremenggeng dan di dalamnya ada sholat, poso, haji, serta umroh yang berhasil melewati langit nomor empat. Namun, malaikat Hafazhah menghentikannya karena orang yang punya amal memiliki sifat ujub (bangga terhadap diri sendiri) yang masuk ke dalam amalnya, sehingga malaikat diperintahkan untuk memukulkan amal tersebut ke wajah, geger punggung, dan perut (weteng) si pelaku,” jelas beliau dengan bahasa yang lugas.

Perjalanan amal yang tampak sempurna pun bisa hancur seketika di tingkat yang lebih tinggi akibat sifat dengki. Di hadapan para jamaah, pengasuh Mahadut Tholabah ini memberikan perumpamaan yang sangat indah namun tragis. Beliau menyampaikan, “Lalu malaikat Hafazhah melewati langit kelima membawa amal yang dibaratkan seperti pengantin putri (temanten putri) yang dipun panggihne temanten putra yang kelihatan sangat cantik.” Sayangnya, keindahan itu sirna ketika penjaga langit kelima berteriak, “Wahai malaikat Hafazhah, amal iki pukulno ning sing duwe amal, delehno ning pundak! Ingsun malaikat sing jogo drengki karena dia tidak mau tersaingi orang lain.”

Pada akhir kajian, Gus Imam Baihaqi mengingatkan seluruh jamaah untuk selalu mawas diri dan membersihkan hati dari segala penyakit batin. Sifat hasad atau dengki sering kali menjadi benalu tak terlihat yang merusak seluruh catatan kebaikan yang telah payah dibangun. “Karena hasad ini masih ada pada diri kita, maka semua amal kita berpotensi ditolak; kita harus terus beristighfar supaya hati ini seimbang dan amal kita benar-benar murni karena Allah,” pungkas beliau menutup tausiah yang penuh tamparan spiritual tersebut.(Humas)