info@man3kediri.sch.id

Fokus Ibadah dan Teladan Nabi: Gus Imam Baihaqi Ingatkan Pendidik MAN 3 Kediri Jauhi Angan Kosong dan Ghibah Amal

Fokus Ibadah dan Teladan Nabi: Gus Imam Baihaqi Ingatkan Pendidik MAN 3 Kediri Jauhi Angan Kosong dan Ghibah Amal

Kab. Kediri (MAN 3) – Semangat menjaga kualitas rohani dan spiritual civitas akademika terus digalakkan di MAN 3 Kediri. Hari ini, Jum’at (31/10), seluruh guru dan tenaga kependidikan MAN 3 Kediri secara istiqomah mengikuti kegiatan “Ngaji Bareng” yang diadakan di ruang guru. Acara rutin ini terasa istimewa dengan kehadiran narasumber, yakni Gus Imam Baihaqi, pengasuh dari Pondok Pesantren Mahadud Tholabah Kebondalem Kandangan.

Acara ngaji bareng ini bertujuan untuk memberikan pencerahan rohani di tengah padatnya aktivitas pendidikan, memastikan bahwa para pendidik tidak hanya berfokus pada kecerdasan intelektual, tetapi juga kedalaman spiritual. Kehadiran Gus Imam Baihaqi disambut hangat, didampingi oleh Waka Bidang Akademik Dr. Muh. Nurul Mukhlishin, M.Pd.I., yang menunjukkan komitmen madrasah dalam memperkuat nilai-nilai keagamaan.

Dalam tausiyahnya, Gus Imam Baihaqi memberikan penekanan tajam mengenai pentingnya menjaga hati dari penyakit sosial yang sering tidak disadari. “Jangan biarkan hatimu membicarakan amal orang-orang yang malas,” pesannya. Beliau menekankan bahwa energi spiritual seharusnya diarahkan untuk mencontoh dan mengikuti teladan para nabi dan orang-orang saleh yang teguh dan bijaksana dalam memperbanyak ibadah, alih-alih mengkritisi atau membandingkan diri dengan orang lain.

Gus Imam juga memberikan peringatan keras terhadap “angan-angan kosong” dalam beribadah. “Jangan berharap menuai apa yang belum kau tabur, karena itu hanyalah angan-angan, bukan iman yang sejati,” tegasnya. Pesan ini mendorong para hadirin untuk bersikap realistis, fokus pada usaha dan pengorbanan (amal) saat ini, dan tidak mudah terlena oleh harapan tanpa tindakan nyata.

Inti dari tausiyah ini kemudian mengerucut pada filosofi menjaga diri, baik secara lahir maupun batin. Menurut Gus Imam, menjaga anggota badan secara lahir harus dimulai dengan mensucikan hati (kalbu), sebab aktivitas anggota badan hanyalah muncul dari sifat-sifat hati. Beliau menegaskan bahwa hati adalah poros dari segala perbuatan.

Gus Imam menutup tausiyahnya dengan mengutip sebuah prinsip pokok dalam Islam: “Jika hati baik, maka seluruh badan akan menjadi baik, begitu juga sebaliknya. Idza sholihat al-qalbu, sholiha biha sairul jasad.” Prinsip ini menjadi penutup yang menguatkan, bahwa kunci untuk menghasilkan pendidik dan lingkungan madrasah yang baik adalah dengan memastikan hati setiap individu terjaga, suci, dan fokus pada amal ibadah diri sendiri.

(Humas)