info@man3kediri.sch.id

Tausiyah Adab Persahabatan, Gus Imam Baihaqi Ingatkan Pentingnya Hak Sahabat

Tausiyah Adab Persahabatan, Gus Imam Baihaqi Ingatkan Pentingnya Hak Sahabat

Kab. Kediri (MAN 3) – Seluruh pendidik dan tenaga kependidikan MAN 3 Kediri dengan penuh keikhlasan dan keistiqomahan mengikuti kegiatan siraman rohani yang disampaikan oleh pengasuh Pondok Pesantren Mahatut Tholabah Kebondalem Kandangan, Gus Imam Baihaqi, di Aula Al Ikhlas pada Jumat (6/11).  Kegiatan pembinaan rohani ini menjadi agenda rutin yang berharga untuk memperkaya wawasan keislaman serta mempererat ukhuwah Islamiyah di antara para pegawai. Suasana kebersamaan tampak kental terasa tatkala seluruh civitas akademika menyimak dengan khidmat setiap pesan moral yang disampaikan penceramah.

Pelaksanaan majelis ilmu ini memberikan pencerahan mendalam mengenai pentingnya menata hati serta menerapkan adab-adab Islami dalam kehidupan sosial sehari-hari, khususnya dalam membangun relasi persahabatan yang diridhai Allah SWT. Merujuk pada kitaran ilmu tasawuf seperti Bidayatul Hidayah yang sarat akan nilai keteladanan Rasulullah SAW, setiap Muslim diingatkan agar senantiasa menjaga hak-hak saudaranya. Pemahaman ini sangat esensial untuk menciptakan lingkungan kerja yang harmonis, saling mendukung, dan dipenuhi oleh energi positif antarsesama pendidik.

Dalam kesempatan mendampingi jalannya acara, Kepala MAN 3 Kediri, Jamiluddin, menyampaikan apresiasi serta pesan penting kepada seluruh pendidik dan tenaga kependidikan yang hadir. “Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas kehadiran serta tausiyah mulia dari Gus Imam Baihaqi, semoga ilmu tentang adab persahabatan ini dapat kita amalkan secara istiqomah di lingkungan kerja MAN 3 Kediri, sehingga sinergi, kekompakan, dan ketulusan dalam melayani pendidikan anak-anak kita senantiasa terjaga dengan baik,” ungkap Jamiluddin dengan penuh khidmat.

Di hadapan para pendidik dan tenaga kependidikan, Gus Imam Baihaqi menguraikan secara komprehensif seluruh adab dan hak persahabatan berdasarkan referensi kitab. Ia mengawali tausiyah dengan perumpamaan dua orang bersaudara bagaikan kedua belah tangan yang saling membasuh, serta kisah teladan Nabi SAW saat membagikan kayu miswak (lurus dan bengkok) seraya mengingatkan bahwa setiap detik waktu persahabatan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Selanjutnya, beliau merinci seluruh poin adab bergaul dan bersahabat yang terangkum dalam uraian berikut: mengutamakan sahabat dengan harta benda atau memberikan kelebihan dari hajat dirinya; segera menolong sahabat pada segala hajatnya tanpa perlu menunggu diminta; menyimpan rahasia serta menutupi keaiban sahabat; berdiam dari menyampaikan perkataan orang lain yang mencela sahabat, sebaliknya menyampaikan perkataan orang yang memuji sahabat; mendengarkan dengan baik saat sahabat bercakap-cakap, meninggalkan perdebatan, serta memanggil sahabat dengan nama yang paling disenanginya; memuji kebaikan sahabat, berterima kasih atas kebaikan yang diberikan, dan menegahkan orang lain yang mengumpat sahabat bagaikan membela diri sendiri; memberi nasihat dengan lemah lembut dan bahasa yang halus, memaafkan kesalahan tanpa mencela, serta mendoakan sahabat baik ketika masih hidup maupun setelah tiada; mengekalkan kecintaan kepada keluarga sahabat setelah kematiannya, serta tidak memberatkan sahabat dengan beban dan tanggung jawab melainkan meringankannya agar ia selalu senang hati; menyatakan rasa suka pada hal yang menyenangkan sahabat dan rasa susah pada kesusahannya, serta menyamakan hakikat kecintaan di hati dengan yang nampak di luar; memulai memberi salam saat menemui sahabat, meluaskan tempat duduk di majelis atau berpindah jika diperlukan, serta bangkit mengantarkan sahabat hingga ke pintu rumahnya; berdiam diri tatkala sahabat bercakap-cakap hingga selesai dan tidak menyela pembicaraannya, serta senantiasa bermuamalah kepada sahabat sebagaimana ia suka diperlakukan, di samping tetap berhati-hati terhadap tingkatan teman yang sekadar kenal biasa.

Melalui siraman rohani yang sarat makna ini, kesadaran spiritual dan emosional seluruh pegawai madrasah kian terpupuk secara mendalam. Pembentukan karakter yang berlandaskan nilai-nilai persahabatan sejati dan adab Islami di lingkungan kerja tentu akan menjadi teladan hidup yang menyejukkan, sekaligus memperkokoh fondasi kebersamaan dalam memajukan mutu pendidikan di MAN 3 Kediri tercinta. (Humas)