Kab. Kediri (MAN 3) – Seluruh pendidik dan tenaga kependidikan MAN 3 Kediri mengikuti kegiatan ngaji rutin Jumat pagi bersama pengasuh Pondok Pesantren Mahatut Tholabah, Gus Imam Baihaqi, bertempat di Aula Al Ikhlas pada Jumat (25/09/2026). Acara ini dibuka oleh Ustad Saiful Anam yang mendampingi Gus Imam di depan. Kegiatan rutin ini menjadi sarana pembinaan mental spiritual serta peningkatan kualitas diri bagi para pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan madrasah.
Pelaksanaan ngaji rutin ini menitikberatkan pada pembahasan mengenai adab seorang penuntut ilmu dan pendidik, yang sangat relevan dengan dunia pendidikan. Dalam pemaparannya, Gus Imam mengupas tuntas berbagai etika dasar yang harus dijaga oleh seorang murid terhadap pendidiknya, mulai dari tata cara memberi salam, sikap tenang di majelis, hingga larangan mendahului pendidik dalam berbicara maupun bertanya. Pembahasan ini diperkuat dengan referensi kitab klasik Bidayatul Hidayah yang merinci secara apik adab-adab pergaulan mulia antara murid dan pendidik.
Dalam tausiahnya, Gus Imam Baihaqi menekankan pentingnya menjaga kehormatan serta adab batiniah maupun lahiriah kepada seorang guru agar ilmu yang didapat menjadi berkah, termasuk menghindari suudzon terhadap tindakan guru yang zahirnya tampak tidak biasa. Ia berpesan, ” Seorang murid hendaknya senantiasa menjaga takrim atau penghormatan kepada pendidik, bersikap tenang, tidak banyak berbicara sebelum diizinkan, Seorang murid tidak boleh berprasangka buruk terhadap guru apabila melihat gurunya mengerjakan sesuatu yang pada zahirnya menyalahi ilmunya, dan hendaknya ia mengingat kisah Nabi Musa AS ketika berguru kepada Nabi Khidir AS.” Teladan tersebut merujuk pada kisah dalam Al-Qur’an ketika Nabi Khidir melubangi perahu yang mereka tumpangi hingga membuat Nabi Musa terkejut dan memprotesnya, yang ternyata di balik tindakan “merusak” tersebut terdapat hikmah besar untuk menyelamatkan perahu dari perampasan raja yang kejam
Lebih lanjut, materi pengajian juga menyoroti kisah-kisah teladan ulama salaf serta bentuk-bentuk adab praktis dalam keseharian, termasuk penerapan prinsip liwalahu yaitu mendahulukan urusan akhirat di atas kepentingan duniawi. Sebagai contoh nyata dari konsep liwalahu tersebut adalah ketika seseorang mendapati shaf shalat di bagian depan masih kosong saat tiba di masjid, maka ia yang hadir lebih dulu harus segera menempatinya dan mengisi barisan terdepan tersebut alih-alih mempersilakan orang lain yang baru datang. Para pendidik dan tenaga kependidikan MAN 3 Kediri tampak menyimak setiap poin penjelasan dengan antusias, mengingat kedudukan adab berada di atas ilmu.
Menutup rangkaian kegiatan Jumat berkah tersebut, ngaji rutin ini disimpulkan sebagai momentum penting untuk menyelaraskan antara kecerdasan intelektual dan keluhuran akhlak di lingkungan MAN 3 Kediri. Melalui internalisasi adab murid terhadap pendidik sebagaimana yang diajarkan oleh Gus Imam Baihaqi, seluruh warga madrasah diharapkan kian termotivasi untuk menciptakan suasana belajar yang berkah, harmonis, serta bermartabat.(Humas)


