info@man3kediri.sch.id

Memupuk Kesalehan Sosial dan Spiritual, GTK MAN 3 Kediri Selami Adab Pergaulan

Memupuk Kesalehan Sosial dan Spiritual, GTK MAN 3 Kediri Selami Adab Pergaulan

Kab.Kediri (MAN 3) – Pendidik dan Tenaga Kependidikan (GTK) MAN 3 Kediri memperdalam spiritualitas melalui kajian Islam bersama Pengasuh Pondok Pesantren Mahatut Tholabah Kebondalem Kandangan, Gus Imam Baihaqi, di Aula Al Ikhlas pada Jumat (28/8). Kegiatan rutin ini dibuka langsung oleh Kepala MAN 3 Kediri, Jamiluddin, untuk meningkatkan kualitas hubungan GTK secara vertikal kepada Allah SWT maupun horizontal kepada sesama manusia. Melalui pembekalan ini, semua GTK diajak memahami esensi keberadaan diri serta pentingnya menjaga etika pergaulan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam tausiahnya, Gus Imam Baihaqi menekankan bahwa kadar rezeki manusia di dunia sudah ditentukan oleh Allah SWT, sehingga niat beribadah hendaknya berfokus pada kebahagiaan akhirat. Ia mengingatkan agar umat tidak terjebak pada ambisi duniawi yang justru merugikan kehidupan spiritual. “Siapa yang menghendaki ganjaran dunia semata, maka dunia dan akhiratnya bisa rugi. Namun, barang siapa yang mengharapkan ganjaran akhirat, ia akan mendapatkan pahala akhirat sekaligus jatah rezeki dunianya,” tutur Gus Imam Baihaqi.

Gus Imam juga menggambarkan realitas takdir rezeki manusia dengan contoh yang sederhana dan mudah dipahami. “Seseorang yang berdoa kepingin mobil Alphard, jika memang jatah takdirnya Carry, maka ia akan tetap menerima Carry,” jelasnya. Selain itu, beliau mengulas tentang konsep uzlah atau mengasingkan diri, di mana tingkat efektivitasnya sangat bergantung pada kapasitas serta kemanfaatan bagi masing-masing individu.

Adab berinteraksi dengan Sang Pencipta memerlukan kesadaran mendalam bahwa Allah SWT senantiasa hadir mendampingi setiap hamba-Nya di kala susah maupun senang. Kesedihan seseorang saat merasa belum optimal dalam beribadah justru menjadi penanda eratnya hubungan spiritual tersebut. “Sewaktu kita merasa susah karena tidak bisa melaksanakan ibadah sesuai yang diperintahkan, sebenarnya di saat itulah Allah menjadi teman atau sohib yang mendampingi kita,” ungkap Gus Imam Baihaqi.

Melalui pembekalan ini, seluruh pendidik dan tenaga kependidikan diharapkan mampu menerapkan keseimbangan adab kepada Allah dan sesama makhluk dalam lingkungan madrasah. Etika pergaulan yang disandari nilai-nilai ketuhanan akan menciptakan suasana kerja yang harmonis, penuh empati, dan berintegritas. Pembekalan spiritual ini sekaligus menjadi fondasi utama bagi para pendidik dalam membimbing para siswa menjadi pribadi yang berakhlak mulia.(Humas)