info@man3kediri.sch.id

Sinergi Rumah dan Madrasah: MAN 3 Kediri Gelar Parenting Islami Kelas X

Sinergi Rumah dan Madrasah: MAN 3 Kediri Gelar Parenting Islami Kelas X

Kab. Kediri (MAN 3) – MAN 3 Kediri sukses mengadakan acara Parenting Islami yang mempertemukan murid dan wali murid kelas X di Aula Bawah madrasah pada Rabu (8/7). Mengangkat tema “Sinergi Rumah dan Madrasah Mewujudkan Generasi 3 KBC (Kreatif, Berkarakter, Cerdas Digital)”, kegiatan ini dirancang untuk menyelaraskan visi pendidikan antara orang tua dan pihak madrasah. Acara penting ini dihadiri langsung oleh kepala madrasah, jajaran fungsionaris, serta panitia MATAMUDA (Masa Ta’aruf Murid Madrasah). Rangkaian acara dibuka dengan khidmat melalui sesi istighosah yang dipimpin oleh Ustadz Saiful Anam, dilanjutkan dengan pembukaan oleh MC Eko Sri Astutik, serta pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ubaidillah Ahmad.

Kepala MAN 3 Kediri, Jamiluddin, dalam sambutannya menekankan pentingnya ketulusan niat dan dukungan penuh dari orang tua dalam menghadapi tantangan zaman modern. Beliau mengingatkan bahwa fokus pendidikan saat ini telah bergeser dari sekadar angka di atas kertas menjadi benteng moral anak-anak.

“Kami hadirkan panjenengan semua ke sini untuk menyatukan pandangan dalam mendidik anak-anak yang sholih dan sholihah. Niatkan dengan tulus untuk menyekolahkan mereka di MAN 3 Kediri, serta ikhlas menerima arahan dan bimbingan. Di MAN 3 Kediri ini menerapkan lima hari kerja, sehingga butuh dukungan fasilitas dan perhatian lebih. Jika niat kita tulus dan ikhlas, maka akan timbul rasa syukur. Tema parenting ini sengaja kita angkat karena tantangan anak-anak hari ini bukan lagi soal nilai akademik, tetapi soal media sosial, pergaulan, serta informasi terkait MATAMUDA,” ujar Jamiluddin.

Acara inti kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi parenting Islami yang interaktif oleh Gus Lathif Qohari. Dalam ceramahnya, ia mengajak orang tua untuk merenungkan masa depan anak-anak mereka dengan menggunakan filosofi buah-buahan dan simbol lima jari tangan sebagai representasi kerja sama keluarga.

“Putra-putri panjenengan semua masuk golongan apa setelah lulus dari madrasah nanti? Kepingin menjadi golongan apa? Ada empat filosofi buah: pertama, Jeruk Bali, dari luar enak dalamnya juga enak, artinya di madrasah berprestasi dan di rumah tawadu’ serta berbahasa halus kepada orang tua. Kedua, Anggur, tidak berbau tapi rasanya manis, dari luar kelihatan tidak menonjol prestasinya tapi akhlak kepada orang tua dan guru luar biasa. Ketiga, Kembang, dari luar tampak indah dan berprestasi tapi akhlaknya tidak baik. Keempat, Mojo, yaitu siswa yang tidak pintar tapi perilakunya juga tidak benar,” papar Gus Lathif.

Lebih lanjut, Gus Lathif Qohari juga menjabarkan filosofi lima jari tangan untuk menggambarkan pentingnya harmoni dan kolaborasi dalam ekosistem pendidikan anak. Beliau mengingatkan bahwa setiap elemen memiliki peran yang unik dan tidak boleh saling dibanding-bandingkan demi mencapai keberhasilan bersama.

“Jempol adalah simbol ayah, telunjuk simbol biaya, jari tengah adalah guru yang derajatnya paling tinggi, jari manis simbol anak, dan jentik atau kelingking adalah simbol ibu. Dari kelima jari ini, jari tengah dan jari manis tidak boleh dibanding-bandingkan dengan yang lain. Kelima jari ini harus bersinergi dan kompak karena tidak ada keberhasilan tanpa kerja sama. Untuk mewujudkan keberhasilan itu, ibaratnya kita butuh DUIT (Doa, Usaha, Ilmu, Tawakal). Mari kita amalkan ijazah doa dari Romo Kyai Khozin Ringinagung, yaitu membaca Bismillahirrahmanirrahim sebanyak 1000 kali dan Sholawat 100 kali,” tambahnya sebelum menutup sesi dengan doa bersama.

Sebagai penutup program, acara tidak hanya berhenti pada pembekalan mental dan spiritual, melainkan juga menyentuh aspek kesiapan akademik masa depan siswa. Setelah sesi keagamaan berakhir, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi dari lembaga bimbingan belajar Neutron. Sosialisasi ini memberikan pemaparan komprehensif mengenai program bimbingan mandiri yang dapat diikuti oleh anak-anak kelas X guna mempersiapkan jenjang karier pendidikan mereka ke depan.(Humas)