
Kab. Kediri (MAN 3) – Dalam rangka memperingati Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama Republik Indonesia ke-80, MAN 3 Kediri menggelar rangkaian kegiatan religius sesuai arahan Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur pada Jumat (2/1). Acara dimulai dengan pelaksanaan shalat dhuha dan istighosah yang berlangsung khidmat di Masjid Al-Hidayah, kemudian dilanjutkan dengan Khotmil Qur’an di aula atas madrasah yang diikuti oleh seluruh guru dan tenaga kependidikan. Kegiatan ini menjadi momentum refleksi diri sekaligus ungkapan rasa syukur atas dedikasi Kementerian Agama dalam melayani negeri selama delapan dekade.

Pelaksanaan Khotmil Qur’an berlangsung sangat terorganisir, di mana para guru yang bertugas sebagai wali kelas turut mendampingi siswa-siswi melakukan khataman di kelas masing-masing. Sinergi antara guru dan siswa ini menciptakan suasana spiritual yang kuat di seluruh lingkungan madrasah. Sementara itu, di aula utama, para tenaga kependidikan dan jajaran pimpinan tampak khusyuk melantunkan ayat-ayat suci, memperkuat komitmen bersama untuk menjaga nilai-nilai keagamaan dalam lingkungan pendidikan.

Kepala MAN 3 Kediri, Drs. Jamiluddin, M.Pd.I., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk penguatan karakter dan jati diri madrasah. “Tujuan utama dari rangkaian istighosah dan Khotmil Qur’an ini adalah untuk memohon keberkahan Allah SWT bagi institusi kita, sekaligus menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an kepada seluruh warga madrasah. Melalui peringatan HAB Kemenag ke-80 ini, kami ingin memperkuat spiritualitas sebagai fondasi dalam memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik bagi masyarakat,” ujarnya di sela-sela acara.

Rangkaian peringatan ini diakhiri dengan doa Khotmil Qur’an bersama yang dipanjatkan untuk keselamatan bangsa dan kemajuan dunia pendidikan Islam di Indonesia. Semangat kebersamaan yang tercipta diharapkan mampu memotivasi seluruh civitas akademika MAN 3 Kediri untuk terus berprestasi dan berinovasi. Dengan terlaksananya kegiatan ini, madrasah tidak hanya merayakan hari lahir kementeriannya secara seremonial, tetapi juga melalui aksi nyata yang menyentuh aspek rohani para pendidik dan peserta didik.(Humas)