info@man3kediri.sch.id

Ngaji Gus Imam: Kunci Mensyukuri Anugerah Anggota Tubuh

Ngaji Gus Imam: Kunci Mensyukuri Anugerah Anggota Tubuh

Kab.Kediri (MAN 3) – Suasana khidmat menyelimuti ruang guru MAN 3 Kediri pada hari ini, Jumat (17/10). Para guru dan tenaga kependidikan berkumpul untuk mengikuti “Ngaji Bareng” yang disampaikan langsung oleh pengasuh Pondok Ma’hadud Tholabah, Kebondalem Kandangan, Gus Imam Baihaqi. Acara keagamaan ini bertujuan untuk memperkuat spiritualitas dan pemahaman keagamaan di kalangan pendidik, khususnya mereka yang tidak bertugas dalam kegiatan ekstrakurikuler atau bimbingan Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada hari itu.

Ngaji bareng tersebut dibuka dan didampingi langsung oleh Kepala MAN 3 Kediri, Drs. H. Jamiluddin, M.Pd.I., menunjukkan dukungan penuh madrasah terhadap kegiatan peningkatan rohani. Dalam tausiahnya, Gus Imam Baihaqi mengawali pembahasan dengan topik mendalam mengenai sikap andap ashor (rendah hati) ketika berhadapan dengan orang kaya dan saleh, karena kekayaannya maka akan hilang dua pertiga dari agama orang tersebut, hanya menyisakan  adab terhadap sesama.

Gus Imam menekankan bahwa adab yang hilang itu bahkan mencakup adab kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. “Dan apabila seseorang mempunyai sikap andap ashor (rendah hati) ketika berhadapan dengan orang memiliki sifat yang tidak baik, maka seluruh agama orang tersebut akan hilang,” tegasnya. Pembahasan ini menjadi pengantar yang kuat untuk sampai pada inti pesan yang lebih filosofis, yaitu bagaimana setiap gerakan dan tindakan yang dilakukan oleh anggota tubuh kita adalah bentuk nikmat agung dari Allah SWT.

Puncak dari tausiahnya adalah penegasan bahwa setiap gerak anggota badan kita merupakan sebuah anugerah yang harus disyukuri dengan cara beribadah kepada Allah SWT. Untuk memperkuat pesannya, Gus Imam membawakan sebuah kisah inspiratif tentang seseorang yang di dunia selalu tekun bersujud dan beribadah. Ketika Allah hendak memasukkannya ke surga karena Rahmat-Nya, orang tersebut menolak, bersikeras ingin masuk surga karena amal ibadahnya sendiri.

Melalui kisah tersebut, Gus Imam menggarisbawahi pentingnya menyadari bahwa manusia tidak bisa berdiri sendiri. Ia mengingatkan bahwa Allah SWT sama sekali tidak membutuhkan kita, dan tidak pula membutuhkan amal ibadah manusia. Oleh karena itu, semua anggota badan yang kita miliki sejatinya adalah modal yang harus kita gunakan sepenuhnya untuk beribadah dan mencari ridha-Nya. Kesadaran ini menuntun pada satu kesimpulan: kita harus beribadah dengan patut, sembari memohon pahala dan surga, serta meninggalkan segala bentuk maksiat.

Lebih lanjut, Gus Imam Baihaqi menyampaikan definisi “orang cerdas” dalam konteks agama. Menurutnya, orang yang cerdas adalah mereka yang mampu membatasi anggota badannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, dan sebaliknya, mempersiapkan seluruh tubuhnya untuk beribadah kepada-Nya. Ini adalah tindakan proaktif untuk memastikan bahwa anugerah anggota tubuh digunakan sesuai dengan kehendak Sang Pencipta.

Sebaliknya, beliau menyebut “orang yang kumprung (bodoh)” adalah mereka yang melakukan sebaliknya—menggunakan anggota tubuh untuk maksiat dan lalai dari ibadah—namun masih berani mengharap ampunan dan kebaikan dari Allah SWT. Ngaji bareng ini ditutup dengan harapan agar para guru dan tenaga kependidikan MAN 3 Kediri dapat menjadi contoh pribadi yang cerdas, selalu bersyukur, dan memaksimalkan setiap anggota tubuh untuk ketaatan.(Humas)